Deli Serdang || Faktasumatera — Gelombang kritik keras terhadap kinerja aparat kepolisian di Kecamatan Batang Kuis kian menguat. Polresta Deli Serdang didesak segera mencopot Kapolsek Batang Kuis, AKP Salija, S.H, karena dinilai gagal menekan maraknya aksi begal yang terus berulang dan meresahkan masyarakat.
Desakan ini disampaikan Pamungkas Agung, Sekretaris PERMEDSU (Persatuan Mediagram Sumatera Utara).
Ia menilai penanganan kejahatan jalanan di wilayah Batang Kuis tidak menunjukkan progres signifikan, bahkan cenderung memburuk.
“Ini bukan lagi kejadian satu-dua kali. Sudah berulang dan semakin berani.
Masyarakat butuh rasa aman, bukan sekadar imbauan,” tegasnya, seraya meminta langkah tegas dan evaluasi menyeluruh dari Polresta Deli Serdang.
Sejumlah peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu terakhir memperkuat kritik tersebut:
- 18 April 2026 (dini hari)
Aksi begal terekam CCTV di Jalan Rumbia, tepatnya di depan Panglong Cahaya Hidayah, Desa Tanjung Sari. Kejadian sekitar pukul 01.30 WIB itu berlangsung cepat dan diduga pelaku telah mengincar korban. Insiden ini menambah daftar panjang kejahatan pada jam rawan.
- 28 Maret 2026 (pagi hari)
Berdasarkan laporan media, seorang warga bernama Susi Ernita Manurung dihadang empat pelaku bersenjata tajam di Jalan Aras Kabu–Batang Kuis, sebelum simpang Stasiun KA Aras Kabu, Kecamatan Beringin. Korban dipaksa menyerahkan sepeda motor karena takut dilukai.
- 16 November 2025 (pagi hari)
Aksi begal terjadi di Jalan Muspika Gang Cemara IV, Desa Tanjung Sari—hanya beberapa puluh meter dari Polsek Batang Kuis. Korban Muhammad Rizky Kurniawan dihadang tiga pelaku bersenjata tajam.
- 2 Oktober 2025 (pagi hari)
Seorang remaja, M Akbar Fadila, menjadi korban begal di Jalan Balai Desa, Desa Sena. Pelaku yang berjumlah tiga orang memepet korban, menendang kendaraan hingga jatuh, lalu membawa kabur sepeda motor Honda Vario miliknya. Kerugian ditaksir belasan juta rupiah.
Rentetan kejadian ini menunjukkan pola yang sama: pelaku beraksi secara berkelompok, menggunakan senjata tajam, dan menyasar titik-titik rawan—bahkan dekat dengan kantor polisi.
Polisi Dinilai Hanya Imbau, Minim Tindakan Nyata.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, pihak kepolisian menyatakan masih melakukan penyelidikan dan mengimbau masyarakat agar berhati-hati saat melintas di lokasi sepi. Namun, pendekatan ini dinilai tidak cukup.
Pamungkas menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan tindakan nyata, seperti patroli intensif, pengungkapan jaringan pelaku, hingga langkah preventif yang terukur.
“Kalau hanya imbauan, itu tidak menyelesaikan masalah. Faktanya, kejadian terus berulang. Ini yang membuat masyarakat kehilangan kepercayaan,” ujarnya.
Desakan Evaluasi dan Penanganan Serius
Masyarakat kini berharap Polresta Deli Serdang tidak menutup mata terhadap situasi ini. Evaluasi terhadap pimpinan sektor dinilai penting untuk memulihkan rasa aman.
Pamungkas juga menegaskan bahwa kondisi ini sudah memicu kekhawatiran luas, terutama bagi warga yang beraktivitas pada pagi dan malam hari.
“Batang Kuis bukan wilayah tanpa hukum. Kalau aparat tidak mampu menjamin keamanan, harus ada evaluasi. Kami minta penanganan serius sebelum jatuh korban lebih banyak,” tegasnya.
Dengan eskalasi kasus yang terus terjadi, tekanan publik kini berada di tangan Polresta Deli Serdang: bertindak cepat atau menghadapi krisis kepercayaan yang semakin dalam.
Sekretaris Permedsu Desak Kapolresta Deli Serdang Copot Kapolsek Batang Kuis, Rentetan Begal yang Semakin Marak










