MEDAN ||□ Faktasumatera.com – Komitmen tegas diperlihatkan oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, dalam mempersiapkan Stadion Teladan sebagai venue laga internasional Piala AFF U-19 2026. Namun, langkah taktis pemerintah daerah ini mendadak diterpa isu miring.
Belum sempat diresmikan, rumput stadion kebanggaan warga Medan tersebut diduga telah “dijajal” secara eksklusif oleh sebuah komunitas lari demi konten media sosial.
Pada Sabtu (23/5/2026), Wali Kota Medan memimpin langsung aksi gotong royong massal lintas sektoral di Stadion Teladan. Langkah ini diambil sebagai strategi percepatan pembenahan estetika dan pembersihan sisa material bangunan, mengingat stadion saat ini sedang dalam tahap finalisasi konstruksi.
”Hari ini kita menginisiasi gotong royong massal. Kita ajak seluruh perangkat kecamatan dan kelurahan untuk bersama-sama turun ke Stadion Teladan. Karena masih ada beberapa bagian stadion yang dalam tahap konstruksi, kita bersihkan sama-sama di akhir minggu ini,” ujar Rico Waas, dikutip dari sumber resmi Dinas Kominfo Kota Medan.
Aksi bersih-bersih yang berlangsung dari pagi hingga menjelang siang ini diikuti oleh unsur Forkopimda Kota Medan, Pimpinan Perangkat Daerah, para Camat, hingga petugas kebersihan. Melalui aksi nyata ini, Rico Waas menegaskan bahwa Kota Medan siap membuktikan diri sebagai tuan rumah yang aman, ramah, dan berstandar internasional.
Sayangnya, kerja keras Pemko Medan dan harapan tinggi masyarakat pecinta bola seolah menjadi panggung angin lalu. Jagat maya dihebohkan oleh beredarnya video dari komunitas lari lokal yang diduga kuat mendapatkan akses masuk sebelum stadion resmi dibuka untuk umum.
Berdasarkan laporan beredar, akun media sosial @banbanrunningclub diduga sempat mengunggah video yang memamerkan aktivitas mereka di atas hamparan rumput hijau Stadion Teladan.
Dalam keterangan unggahannya, komunitas tersebut menuliskan kalimat yang memicu polemik:
“Sebuah kehormatan bagi kami menjadi komunitas lari pertama yang diundang merasakan atmosfer stadion sebelum turnamen dimulai.”
Keterlibatan komunitas ini diperkuat oleh bukti visual berupa logo pada baju yang dikenakan sejumlah pelari serta logo penutup di akhir konten video mereka.
Unggahan yang sempat terlihat “mewah” pada Rabu (27/5/2026) malam tersebut langsung menuai sorotan tajam. Pantauan terakhir pada Kamis (28/5/2026) menunjukkan bahwa video tersebut diduga telah dihapus. Tidak hanya itu, akun media sosial komunitas lari yang bersangkutan kini mendadak dikunci (private).
Tindakan ini menyisakan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Stadion Teladan merupakan simbol kebanggaan klub PSMS Medan (Ayam Kinantan).
Langkah sepihak yang membiarkan pihak luar menginjak rumput stadion yang belum diresmikan dinilai telah melukai hati masyarakat dan pencinta sepak bola profesional.
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak Komunitas terkait dan Pemerintah Kota Medan. Publik menanti kejelasan mengenai siapa yang memberikan izin masuk kepada komunitas tersebut di tengah ketatnya proses finalisasi stadion menuju ajang internasional Piala AFF U-19.
Pemko Medan yang Gotong Royong, Komunitas Lari yang Curi Start: Markas Ayam Kinantan Malah Kebobolan Pemburu Konten











